15 September 2026
jamu pegal linu untuk nyeri sendi

Sumber: https://www.magnific.com/free-photo/man-bent-her-head-grabbed-him-her-after-exercise_8351815.htm

Pernah merasa lutut atau pergelangan tangan terasa kaku dan nyeri padahal tidak habis olahraga berat? Ternyata keluhan ini bukan cuma perasaan sendiri. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI, prevalensi penyakit sendi di Indonesia tercatat sekitar 7,3 persen dari populasi, dan sudah mulai muncul sejak usia 15-24 tahun (1,3 persen), terus meningkat hingga 6,3 persen di rentang usia 35-44 tahun. Artinya, nyeri sendi bukan sekadar keluhan orang tua, tapi kondisi yang mekanismenya sudah dipahami dengan cukup jelas secara medis.

Apa yang Sebenarnya Terjadi Saat Sendi Terasa Nyeri

Menurut Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, penyebab nyeri sendi yang paling umum adalah osteoartritis, yaitu gangguan yang terjadi saat cairan sinovial di dalam sendi berkurang. Cairan ini berfungsi sebagai peredam tekanan dan pelumas sendi. Ketika jumlahnya menurun, sendi kehilangan kelenturannya, dan ujung tulang rawan yang biasanya jadi bantalan mulai terkikis, sampai akhirnya tulang bisa saling bersentuhan langsung tanpa pelindung yang cukup. Proses inilah yang menimbulkan rasa nyeri, kaku, dan keterbatasan gerak pada sendi yang terkena.

Di luar osteoartritis, nyeri sendi berulang juga bisa disebabkan gout arthritis atau asam urat, yang punya karakteristik dan penanganan berbeda dari osteoartritis, sehingga penting untuk tidak asal menyamakan semua jenis nyeri sendi sebagai satu kondisi yang sama.

5 Faktor yang Terbukti Meningkatkan Risiko Osteoartritis

Beberapa faktor risiko osteoartritis sudah didukung data yang cukup konsisten dari berbagai penelitian dan laporan Kemenkes.

1. Usia

Usia adalah faktor paling dominan, karena prevalensi osteoartritis meningkat seiring bertambahnya umur akibat penurunan kualitas tulang rawan dan cairan sinovial secara alami.

2. Jenis Kelamin

Osteoartritis, terutama pada tangan dan lutut, tercatat lebih sering dan lebih parah terjadi pada wanita, khususnya setelah memasuki usia menopause.

3. Berat Badan Berlebih

Beban ekstra pada sendi, terutama lutut dan pinggul, mempercepat kerusakan tulang rawan, sehingga berat badan berlebih jadi salah satu faktor risiko yang paling konsisten terbukti dalam berbagai penelitian.

4. Riwayat Cedera dan Penggunaan Sendi Berlebihan

Riwayat cedera sendi sebelumnya dan penggunaan sendi secara berlebihan dalam jangka panjang, misalnya karena pekerjaan fisik berat yang berulang, tercatat meningkatkan risiko osteoartritis di kemudian hari.

5. Faktor Genetik

Faktor genetik ikut berperan, meski mekanisme pastinya masih terus diteliti lebih lanjut oleh para peneliti.

Kombinasi beberapa faktor risiko sekaligus, misalnya usia lanjut ditambah berat badan berlebih, biasanya membuat gejala osteoartritis muncul lebih awal dan lebih parah dibanding kalau cuma satu faktor saja yang berperan.

Cara Mengurangi Risiko dan Meredakan Gejala

P2PTM Kemenkes secara eksplisit merekomendasikan dua langkah utama berikut, karena meski proses penuaan tidak bisa dihentikan, risiko osteoartritis tetap bisa diminimalkan.

  1. Menjaga berat badan ideal. Mengurangi beban berlebih pada sendi penopang, terutama lutut, sehingga memperlambat kerusakan tulang rawan yang sudah ada.
  2. Rutin berolahraga. Jenis olahraga yang tidak membebani sendi secara berlebihan, seperti berjalan kaki atau berenang, membantu menjaga kekuatan otot penyangga sendi tanpa memperberat kerusakan yang sudah ada.

Selain dua langkah di atas, beberapa orang juga memanfaatkan jamu pegal linu untuk nyeri sendi sebagai pelengkap, terutama bahan-bahan herbal yang secara turun-temurun dipakai untuk membantu meredakan pegal dan kekakuan otot. Ini bukan bagian dari rekomendasi resmi P2PTM di atas, melainkan opsi tambahan yang jadi pilihan pribadi. Kalau memilih opsi ini, pastikan produknya sudah terdaftar resmi di BPOM, dan cek sendiri nomor izin edarnya, jangan hanya percaya klaim yang tertulis di kemasan atau iklan.

Kapan Harus ke Dokter

P2PTM Kemenkes menyarankan konsultasi ke dokter begitu nyeri sendi sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, karena dokter bisa memberikan obat-obatan yang berfungsi mengurangi peradangan sekaligus meminimalkan kerusakan sendi lebih lanjut. Ini penting terutama karena osteoartritis bersifat progresif, artinya kondisinya bisa terus memburuk kalau dibiarkan tanpa penanganan yang tepat.

Nyeri sendi memang berkaitan erat dengan proses penuaan yang tidak bisa dihindari, tapi data yang ada menunjukkan sebagian besar faktor risikonya justru bisa dikendalikan lewat kebiasaan harian, mulai dari menjaga berat badan, rutin bergerak, sampai berkonsultasi ke dokter begitu gejalanya mulai mengganggu, sebelum kondisinya berkembang lebih jauh.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *